FILOSOFI BUSANA WANITA JAWA

Maret 24th, 2012, posted in budaya jawa, busana jawa, falsafah Jawa

Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebayakemben dan kain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara.

Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seorang garwo dalem misalnya,baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan.

Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakai kemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagen dililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.

Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat misalnya. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dari badan (dari mata kaki sampai pinggang). Panjangnya kebaya bervariasi, mulai dari yang berukuran di sekitar pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek yang berukuran sampai pinggul dan kebaya panjang yang berukuran sampai ke lutut.

Kebaya pendek dapat dibuat dari berbagai jenis bahan katun, baik yang polos dengan salah satu warna seperti merah, putih, kuning, hijau, biru dan sebagainya maupun bahan katun yang berbunga atau bersulam. Saat ini, kebaya pendek dapat dibuat dari bahan sutera, kain sunduri (brocade), nilon, lurik atau bahan-bahan sintetis. Sedangkan, kebaya panjang lebih banyak menggunakan bahan beludru, brokat, sutera yang berbunga maupun nilon yang bersulam. Kalangan wanita di Jawa, biasanya baju kebaya mereka diberi tambahan bahan berbentuk persegi panjang di .bagian depan yang berfungsi sebagai penyambung (kuthubaru).

Baju kebaya dipakai dengan kain sinjang jarik/ tapih dimana pada bagian depan sebelah kiri dibuat wiron (lipatan) yang dililitkan dari kiri ke kanan. Untuk menutupi stagen digunakan selendang pelangi dari tenun ikat celup yang berwarna cerah. Selendang yang dipakai tersebut sebaiknya terbuat dari batik, kain lurik yang serasi atau kain ikat celup. Selain kain lurik, dapat juga memakai kain gabardine yang bercorak kotak-kotak halus dengan kombinasi warna sebagai berikut: hijau tua dengan hitam, ungu dengan hitam, biru sedang dengan hitam, kuning tua dengan hitam dan merah bata dengan hitam. Kelengkapan perhiasannya dapat dipakai yang sederhana berupa subang kecil dengan kalung dan liontin yang serasi, cincin, gelang dan sepasang tusuk konde pada sanggul.

Baju kebaya panjang biasanya menggunakan bahan beludru, brokat, sutera maupun nilon yang bersulam. Dewasa ini, baju kebaya panjang merupakan pakaian untuk upacara perkawinan. Dan umumnya digunakan juga oleh mempelai wanita Sunda, Bali dan Madura. Panjang baju kebaya ini sampai ke lutut, dapat pula memakai tambahan bahan di bagian muka akan tetapi tidak berlengkung leher (krah). Pada umumnya kebaya panjang terbuat dari kain beludru hitam atau merah tua, yang dihiasi pita emas di tepi pinggiran baju. Kain jarik batik yang berlipat (wiron) tetap diperlukan untuk pakaian ini, tetapi biasanya tanpa memakai selendang. Sanggulnya dihiasi dengan untaian bunga melati dan tusuk konde dari emas. Sedangkan, perhiasan yang dipakai juga sederhana, yaitu sebuah sisir berbentuk hampir setengah lingkaran yang dipakai di sebelah depan pusat kepala. Baju kebaya panjang yang dipakai sebagai busana upacara biasa, maka tata rias rambutnya tanpa untaian bunga melati dan tusuk konde.

Pada bagian badan kebaya dipotong sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan krup. Ini dimaksudkan agar benar-benar membentuk badan pada bagian pinggang dan payudara dan sedikit melebar pada bagian pinggul. Sedangkan, lipatan bawah bagian belakang dan samping harus sama lebarnya dan menuju ke bagian depan dengan agak meruncing. Lengkung leher baju menjadi satu dengan bagian depan kebaya. Lengkung ini harus cukup lebar sehingga dapat dilipat ke dalam untuk vuring kemudian dilipat lagi keluar untuk membentuk lengkung leher.

Busana Jawa baik pakaian sehari-hari maupun pakaian upacara sangat kaya akan ragam hias yang tak jarang memiliki makna simbolik dibaliknya. Jenis ragam hias yang dikenal di daerah Surakarta maupun Jogyakarta adalah kain yang bermotifkan tematema geometris, swastika (misalnya bintang dan matahari), hewan (misal : burung, ular, kerbau, naga), tumbuh-tumbuhan (bunga teratai, melati) maupun alam dan manusia. Motif geometris diantaranya adalah kain batik yang bercorak ikal, pilin, ikal rangkap dan pilin ganda. Motif berupa garis-garis potong yang disebut motif tangga merupakan simbolisasi dari nenek moyang naik tangga sedang menuju surga. Bahkan motif yang paling dikenal oleh masyarakat Surakarta adalah motif tumpal berbentuk segi tiga yang disebut untu walang, yang melambangkan kesuburan.

Pada busana-busana khusus untuk upacara perkawinan dikenal juga motif pada batik tulis, seperti kain sindur dan truntum yang dipakai oleh orang tua mempelai. Sedangkan kain sido mukti, kain sido luhur dan sido mulyo merupakan pakaian mempelai.

Fungsi pakaian, awalnya digunakan sebagai alat untuk melindungi tubuh dari cuaca dingin maupun panas. Kemudian fungsi pakaian menjadi lebih beragam, misalnya untuk menutup aurat, sebagai unsur pelengkap upacara yang menyandang nilai tertentu, maupun sebagai alat pemenuhan kebutuhan akan keindahan.

Pada masyarakat di Jawa Tengah, khususnya di Surakarta fungsi pakaian cukup beragam, seperti pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis, estetis, religius, sosial dan simbolik. Seperti kain kebaya fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan; fungsi estetis, yakni menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik; fungsi sosial yakni belajar menjaga kehormatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stagen sekuat mungkin agar tidak mudah lepas.

sumber :

http://njowo.wikia.com/wiki/Busana_Tradisional_Jawa-Solo

FILOSOFI BUSANA PRIA JAWA

Maret 24th, 2012, posted in budaya jawa, busana jawa, falsafah Jawa

Busana adat Jawa biasa disebut dengan busana kejawen mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa.

Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, baik dalam hubungannya dengan sesama manusia, diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya.

  • Pakaian adat yang dikenakan pada bagian kepala adalah, seperti iket, udheng
  • Dibagian tubuh ada rasukan (baju): jarik sabuk, epek, timang
  • Dibagian belakang tubuh yakni keris
  • Dikenakan dibagian bawah atau bagian kaki yaitu canela.

busana pria jawa

Penutup Kepala

Untuk bagian kepala biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan “iket” yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. Cara mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng, tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.

Hampir sama penggunaannya yaitu udheng juga, dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Jika sudah dikenakan di atas kepala, iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas, faham. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh, mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional.

Busana

Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik, diperhitungkan dengan cermat. Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain, dapat, menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum.

Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan). Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne. Jadi harus ubed atau gigih.

Epek bagi orang jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik, harus epek (apek, golek, mencari) pengetahuan yang berguna. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun, teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas.

Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang, tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang.

Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). Menanggapi setiap masalah harus hati-hati, tidak grusa-grusu (emosional).

Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Wiru atau wiron (rimple) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru, dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru, kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.

Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan, bebed artinya manusia harus ubed, rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan ” tumindak nggubed ing rina wengi ” (bekerja sepanjang hari)

Canela

Canela mempunyai arti “Canthelna jroning nala” (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu, Selop, atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki, artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Curiga lan warangka

Curiga atau keris berujud wilahan, bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa, manunggaling kawula Gusti. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh, keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk ngungkurake godhaning setan yaitu menjauhkan godaan setan  yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan.

Demikianlah  filosofi yang terkandung dalam busana pria jawa . Semoga bisa menjadikan kita pelajaran hidup. dan menambah wawasan kita tentang budaya jawa yang adiluhung ini.

sumber :

http://semarasanta.wordpress.com/2007/09/12/busana-jawa-makna-yang-tersirat-dalam-busana-tradisional-jawa-lengkap/

http://kisahbangsa.wordpress.com/2010/07/06/catatan-tentang-busana-adat-jawa/

Dolanan Anak

Februari 11th, 2012, posted in permainan anak di jawa, tembang jawa

Di kampug kampung di jawa,.. pada jaman dulu dikenal  mainan atau permainan yang sering dimainkan oleh anak anak jawa,.. bisa berupa mainan (berwujud barang) atau permainan ( semacam games). Dulu karena ketiadaan listrik,. saat sore hari setelah membantu orang tua menggembala ternak atau membantu pekerjaan di sawah adalah saat bermain yang paling menyenangkan,.. atau di malam hari ketika bulan sedang purnama.. karena ketika bulan penuh suasana tak lagi gelap,. namun lumayan benderang untuk bermain. Karena keterbatasan sarana dan prasarana anak-anak desa cenderung kreatif menciptakan mainan dan permainan untuk mengisi saat atau waktu bermain mereka,.. tak seperti anak sekarang yang lebih menyukai menonton kartun di depan TV atau main games di komputer,.. yang membuat mereka jadi pribadi yang malas bergerak,.. karena semua sekarang bisa dilakukan dengan bantuan remote control.

Ada banyak permainan yang kukenal sewaktu aku kecil dulu,.. beberapa di antaranya yang masih kuingat adalah :

1. Jamuran,

Jamuran adalah games yang bisa dilakukan oleh lebih dari empat orang,.. dengan salah satunya menjadi orang yang “jadi”,.. yaitu orang yang berdiri di tengah yang diharuskan bisa menjawab pertanyaan anak2 yang mengelilinginya,.. permainan ini dilakukan dengan bernyanyi,. dengan di ujung nyanyian diberikan satu tebakan… pertanyaannya berkisar tentang jamur.. makanya permainan ini dinamakan Jamuran,..

Anak2 yang mengelilingi si “jadi’ ini berkeliling bergandengan tangan sambil menyanyikan lagu jamuran,.. yang kalau tidak salah syairnya seperti berikut ini

” jamuran yo ge ge tok,. jamur opoooooooo yo gege tok,.. siro bade jamur opo? “

yang di tengah harus bisa menyebutkan jamur apa,.. nanti yang lain harus mempergakan jamur yang disebut oleh si “jadi ” ini,.. semisal,. ‘jamur tales dempel”,.. maka anak yg tidak “jadi “memperagakan tales dempel,. caranya satu orang duduk memegang erat tiang, yang lain memegang perut yang didepannya dengan erat sehingga tidak mudah lepas,.. sambil duduk juga,.. nah tugas si “jadi” ini adalah membetot si talas,.. dengan cara menarik perutnya supaya terlepas dari rangkaian tales dempel itu… terus sampai orang yang terakhir.. jika semua berhasil dilepaskan maka permainan di mulai dari awal,.. dengan cara hompimpah,. untuk menemukan siapa yang akan jadi si ‘jadi’ ,.. kalau sudah dipilih siapa yang akan jadi maka si “jadi” akan berdiri di tengah bundaran dan prosesnya berulang seperti tadi. Adapun macam jamur yang bisa disebut dan bagaimana peragaannya.. diantara yang kuingat adalah berikut

*jamur tales dempel

*jamur parut... pegaannya semua kecuali si jadi berjajar menghadap dan berpegangan pada dinding rumah atau pagar dengan satu kaki diangkat seperti ketika akan ‘engkle”,.tanpa alas kaki… nah tugas si jadi adalah menggaruk satu2 kaki teman2nya tadi.. siapa yang paling gak tahan alias kegelian dia yang akan si “jadi berikutnya.

*jamur dandang borot alias dandang bocor…

peragaannnya adalah semua yang ikut permainan diwajibkan untuk pipis,.. tugas si jadi memastikan bahwa semua peserta sudah pipis,.. yang tidak pipis  akan kebagian untuk menjadi si ‘jadi” yang berikutnya,.. hehehhe,.. lucu ya…

* jamur putri malu,..

peragaannya di gelitiki pinggangnya…. yang paling gak tahan akan jadi si “jadi “yang beikutnya

mungkin banyak jamur-jamur lain yang bisa disebut jika kita kreatif…silahkan diperagakan jika ingin kembali ke suasana jaman dulu,.. hehhehehehe ,. asyik dan seru juga lo,..

2. Gobak Sodor

Gobak Sodor berasal dari kata”go back to the door” ,. artinya kembali ke pintu masuk,.. permainan ini mungkin ada kemiripan aatau kesamaan dengan permainan dari daerah lain.. cara bermainnya adalah ada yang bertugas menjaga garis2 di tiap ruang.. dan ada yang lari dari satu ruang ke ruang lain sehingga bisa keluar lagi ke pintu awal di masuk tadi,.. permainan ini memerlukan arena.. yang digaris2 sejumlah anak yang akan bermain.. kalo yang bermain 6 orang berarti dibagi 2 regu menjadi masing2 3 orang,.. satu regu bermain.. satu regu jaga.. yang berjaga hanya boleh bergerak di sepanjang garis yang sudah digambar di arena,.. sedang yg bermain harus bisa masuk dari satu ruang ke ruang lain sampai ruang paling belakang dan kembali ke ruang awal di masuk tadi… yang berhasil kembali tanpa kepegang pihak yang jaga dia yang menang,.. biasanya yang kalah diwajibkan untuk menggendong yang kalah,.. hingga batas dan jarak tempuh yang disepakati… hehehehe,..

3. Benthik

benthik adalah permainan beregu juga.. masing2 regu terdiri dari 2 orang,.. dan diperlukan 2 regu untuk satu kali permaianan. benthik memerlukan alat,. yaitu 2 ranting pohon yang satu berukuran panjang.. dan satunya berukuran pendek. juga diperlukan lubang memanjang sebesar telapak tangan dengan kedalaman sekitar 5 cm untuk membenthik. Yang dimaksud membenthik adalah menaruh ranting pendek melintang lubang,.. kemudian diungkit dengan ranting panjang,.. dan dilontarkan sejauh mungkin supaya tidak tertangkap lawan. Karena jika ranting pendek itu tertangkap maka permainan berakhir dan giliran regu lawan yang bermain.  Ada tahapan2 dalam membenthik,..

1. membenthik biasa,.. jadi ungkit langsung lempar,.. dimana letak jatuhnya itu dihitung jaraknya dengan ranting  yang panjang hingga sampai ke lubang,. itulah nilainya,.

2. membenthik dengan beberapa kali pukulan,.. caranya begitu diungkit ranting  pendek terlontar ke atas terus dipukul-pukul  beberapa kali sebelum dilontarkan jauh,.. dimana letak jatuhnya dihitung dengan batang  yang pendek hingga ke lubang,.. itu sebagai nilainya,.. karena tingkat kesulitannya lebih tinggi makanya dihitung dengan ranting  yang lebih pendek.

Kalau 2 tahapan membethik itu lolos,.. maka grup yang menang berhak untuk digendong dari pukulan terakhir tadi jatuhnya dimana sampai ke asal lubang.  Setelah gendongan ini,.. ganti pihak lawan yang berkesempatan untuk membenthik,.. yang lain jaga.

Kenapa di sebut benthik mungkin berasal dari bunyi benturan antara ranting tadi bunyinya “thik” “thik” ,.. itu sih menurut perkiraan aku saja,. kebenarannya aku tidak tahu,.. hehehe.. karena aku menulis hanya sebatas yang aku tahu saja,

4. Maling malingan

ini permainan semacam petak umpet,..namun grup nya dibagi menjadi 2.. kalau yang ikut bermain 10 anak,.. maka sebagian jadi maling sebagian jadi yang memburu, jadi masing2 grup terdiri dari 5 anak.  permainan ini asyik dimainkan ketika bukan purnama. Karena tempat bersembunyi jadi agak terlindung dan susah ditemukan.. seru deh.  Dalam permainan ini atribut yang diperlukan adalah sarung.. ketika kita jadi maling maka sarung dapat dipake untuk menutup muka kita biar tampilan menyerupai maling sungguhan, Nah ketika kita jadi yang memburu,  sarung digunakan untuk memukul maling yang kita temukan. hehehehe,.. agak sadis ya.. tapi memukulnya tentunya tidak sekuat tenaga… namun seru dan kadang lucu juga.. hehehhehe,..

Demikianlah beberapa permainan yang aku ingat,. nanti kalau  ada yang kuingat lagi akan aku share dan tambahkan.. sementara ini aku akan kembali ke kenangan masa kecilku,. untuk mengingat2  bagaimana dulu kami anak2 desa bermain… salam dari desa di jawa ,..

Gamelan Jawa

Februari 9th, 2012, posted in budaya jawa, falsafah Jawa, musik jawa

Gamelan Jawa adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Musik yang tercipta pada Gamelan Jawa berasal dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik umumnya lembut dan mencerminkan keselarasan hidup, sebagaimana prinsip hidup yang dianut pada umumnya oleh masyarakat Jawa.

gamelan-jawa

Gamelan Jawa terdiri atas instrumen berikut:

Sejarah Gamelan

Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa “gamel” yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran “an” yang menjadikannya sebagai kata benda.  Sedangkan istilah gamelan mempunyai arti sebagai satu kesatuan alat musik yang dimainkan bersama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah terciptanya alat musik ini. Tetapi, gamelan diperkirakan lahir pada saat budaya luar dari Hindu – Budha  mendominasi Indonesia. Walaupun pada perkembangannya ada perbedaan dengan musik India, tetap ada beberapa ciri yang tidak hilang, salah satunya adalah cara “menyanyikan” lagunya. Penyanyi pria biasa disebut sebagai wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana.

Menurut mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka. Beliau adalah dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana yang berada di gunung Mahendra di daerah Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu).

Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan adalah “gong”, yang digunakan untuk memanggil para dewa. Setelah itu, untuk menyampaikan pesan khusus, Sang Hyang Guru kembali menciptakan beberapa peralatan lain seperti dua gong, sampai akhirnya terbentuklah seperangkat gamelan.

Pada jaman Majapahit, alat musik gamelan mengalami perkembangan yang sangat baik hingga mencapai bentuk seperti sekarang ini dan tersebar di beberapa daerah seperti Bali, dan Sunda (Jawa Barat).

Bukti otentik pertama tentang keberadaan gamelan ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah yang berdiri sejak abad ke-8. Pada relief-nya terlihat beberapa peralatan seperti suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, termasuk sedikit gambaran tentang elemen alat musik logam. Perkembangan selanjutnya, gamelan dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang dan tarian. Sampai akhirnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Gamelan yang berkembang di Jawa Tengah, sedikit berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut apabila dibandingkan dengan Gamelan Bali yang rancak serta Gamelan Sunda yang mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Menurut beberapa penelitian, perbedaan itu adalah akibat dari pengungkapan terhadap pandangan hidup “orang jawa” pada umumnya.

Pandangan yang dimaksud adalah : sebagai orang jawa harus selalu “memelihara keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, serta keselarasan dalam berbicara dan bertindak”. Oleh sebab itu, “orang jawa” selalu menghindari ekspresi yang meledak-ledak serta selalu berusaha mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud paling nyata dalam musik gamelan adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang sangat kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu “sléndro”,  “pélog”,  ”Degung” (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan “madenda” (juga dikenal sebagai diatonis), sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.

  • Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.
  • Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu :  1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yang terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Gamelan Jawa merupakan seperangkat instrumen sebagai pernyataan musikal yang sering disebut dengan istilah karawitan. Karawitan berasal dari bahasa Jawa rawit yang berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, cantik, berliku-liku dan enak. Kata Jawa karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, musik Indonesia yang bersistem nada non diatonis (dalam laras slendro dan pelog) yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet dan aturan garap dalam bentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.

Gamelan yang lengkap mempunyai kira-kira 72 alat dan dapat dimainkan oleh niyaga (penabuh) dengan disertai 10 – 15 pesinden dan atau gerong. Susunannya terutama terdiri dari alat-alat pukul atau tetabuhan yang terbuat dari logam. Alat-alat lainnya berupa kendang, rebab (alat gesek), gambang yaitu sejenis xylophon dengan bilah-bilahnya dari kayu, dan alat berdawai kawat yang dipetik bernama siter atau celepung.

Secara filosofis gamelan Jawa merupakan satu bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa. Hal demikian disebabkan filsafat hidup masyarakat Jawa berkaitan dengan seni budayanya yang berupa gamelan Jawa serta berhubungan erat dengan perkembangan religi yang dianutnya.

Pada umumnya alat-alat musik yang terdapat dalam perangkat Gamelan terdiri dari:

1. Counter-Melody, adalah alat-alat musik yangterdiri atas:

  • Gambang, adalah alat yang menyerupai instrument metallophone, tetapi bilah-bilahnyaterbuat dari kayu atau tembaga.
  • Suling, adalah alat musik tiup yang biasanya terbuat dari bambu. Dibedakan atas dua tipe: 1)suling dengan lima lubang (finger-holes) untuk laras Pelog; 2) suling dengan empat lubanguntuk laras slendro
  • Rebab, adalah alat musik gesek yang dapat menghasilkan suara cukup keras
  • Siter atau Celempung, adalah alat petik sejenis gitar tetapi memiliki senar yang lebih banyak.

2. Drum terdiri atas:

  • Bedug, adalah alat musik tabuh yang terbuat dari sepotong batang kayu besar yang telahdilubangi bagian tengahnya sehingga menyerupai tabung besar. Pada ujung batang yangberukuran besar ditutup dengan kulit binatang (biasanya kulit sapi, kerbau atau kambing).Bedug menimbulkan suara berat, rendah, tapi dapat didengar sampai jarak yang jauh.
  • Kendang, adalah alat musik tabuh menyerupai bedug tetapi memiliki ukuran yang lebih kecil.Kendang biasanya dimainkan oleh pemain gamelan profesional. Kendang dapat dibagimenjadi empat berdasarkan ukuran dari yang terbesar sampai yang terkecil: KendangGending, Kendang Wayangan, Kendang Ciblon, dan Kendang Ketipung.

3. Gong, terdiri dari:

Gong yang digantung. Dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu:
  • Gong Ageng, adalah gong terbesar dalam Gamelan Jawa dan dipercaya sebagai“roh” dalam Gamelan. Oleh karena itu, gong ini sangat dihormati. Biasanya GongAgeng ditempatkan di belakang Gamelan.
  • Kempul, adalah gong gantung yang memiliki ukuran lebih kecil dari Gong Ageng.
Gong yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkai kayu (tempat yang terbuatdari kayu ini kadang disebut “Rancakan”). Dapat dibedakan dalam 4 (empat) jenis gong,yaitu:
1. Bonang,
adalah satu set gong yang terdiri dari sepuluh sampai empat belas gong-gong kecil dengan posisi horizontal  yang
tersusun dalam dua deretan.
Ada duamacam Bonang, yaitu:
  • Bonang Barung, yaitu Bonang berukuran sedang, beroktaf tengah sampaitinggi
  • Bonang Panerus, yaitu Bonang berukuran kecil tetapi titi nadanya lebih tinggisatu oktaf dibandingkan Bonang Barung.
2. Kenong, adalah gong terbesar yang diletakkan diatas tali yang direntangkan pada bingkaikayu. Dalam beberapa       Gamelan, satu bingkai kayu dapat berisi 3 (tiga) Kenong
3.Ketuk dan Kempyang. Adalah gong-gong yang diletakkan di sebelah Kenong. Ketuk danKempyang selalu ditempatkan dalam sebuah kotak kayu.

4. Metallophones,
adalah alat-alat musik berbentuk bilahan lempengan yang terdiri dari enam tautujuh bilah, ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Alat-alat musikini dapat dibedakan menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
a. Saron, terdiri atas:
  1. Saron Demung, yaitu alat musik dengan bilahan paling besar dalam keluarga Sarondan menghasilkan nada rendah. Titi nada Saron Demung lebih rendah satu oktaf dibanding Saron Barung. Saron Demung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe:Demung Slendro dan Demung Pelog.
  2. Saron Barung. Dibandingkan dengan Saron Demung & Saron Panerus, SaronBarung memiliki bilahan logam menengah (medium). Titi nadanya satu oktaf lebihrendah dari Saron Panerus dan satu oktaf lebih tinggi dari Saron Demung. SaronBarung juga dapat dibedakan dalam 2 (dua) tipe: Barung Slendro dan Barung Pelog.
  3. Saron Panerus atau seringkali disebut dengan julukan Peking. Ini merupakankeluarga Saron yang paling kecil. Dibandingkan Saron Barung, Saron Panerusmemiliki titi nada lebih tinggi satu oktaf. Saron Barung juga dapat dibedakan dalam 2(dua) tipe: Panerus Slendro dan Panerus Pelog
b. Gender, adalah alat musik yang terdiri dari bilah-bilah metal yang ditegangkan dengan tali.
Gender dapat dibedakan menjadi:
  • Slentem, adalah alat musik dengan bilah metal dan resonator terbesar dalamkeluarga gender. Biasanya Slentem memiliki tujuh bilah dan memiliki titi nada satuoktaf dibawah Saron Demung
  • Gender, terdiri atas:
  1. Gender Barung. Gender Barung memiliki bilah metal dengan ukuran sedangdalam keluarga Gender. Gender Barung memiliki titi nada satu oktaf lebihrendah dari Gender Panerus.
  2. Gender Panerus. Gender Panerus memiliki bilah-bilah yang paling kecildalam keluarga Gender. Gender Panerus memiliki titi nada satu oktaf lebihtinggi daripada Gender Barung

Masing-masing dari alat-alat musik (perangkat) tersebut diatas memiliki fungsi-fungsi khusus yang saling mengisi dan melengkapi sehingga menciptakan harmonisasi antara satu sama lain. Setiap alat musik sudah memiliki pakem yang tertuang dalam phatet (pembatasan wilayah nada).


sumber :

http://wonojoyo.com/sejarah-gamelan-jawa/

http://tengkoraksakti.blogspot.com/2010/05/gamelan-jawa-sejarah-dan-misteri.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Gamelan_Jawa

http://www.scribd.com/doc/27559092/PERANGKAT-GAMELAN-JAWA

Filosofi Hidup orang Jawa

Januari 23rd, 2012, posted in budaya jawa, falsafah Jawa

dalam kehidupan masyarakat jawa,.. banyak istilah sering kira dengar,.. berikut ini beberapa filosofi nya..


1.Urip Iku Urup - Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan semakin baik.

2.Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara - Manusia hidup didunia harus mengusahakan kebaikan dan memberantas angkara murka.

3. Sura Dira Jaya Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti - segal asifat angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

4. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake -Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan.

5.Sekti Tanpa Aji”, Sugih Tanpa Bandha -Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan,kekayaan/keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.

6.Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan-Jangan gampang sakit hati saat musibah menimpa diri, Jangan sedih saat kehilangan sesuatu.

7.Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman -Jangan mudah terheran”, Jangan mudah nyesel, Jangan mudah terkejut, Jangan mudah ngambeg, jangan manja.

8.Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman- Jangan terkungkung dengan keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi

9. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka -Jangan merasa paling pandai agar tidak  salah arah,Jangan suka curang agar tidak celaka.

10.Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo - jangan tergiur hal” yg tampak mewah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat/semangat.

11. Aja Adigang, Adigung, Adiguna -Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti..

12.jer basuki mawa beyo,,,,,untuk mencapai kesuksesan perlu pengorbanan


POHON YANG MENGANDUNG FILOSOFI DI JAWA

Nopember 30th, 2011, posted in falsafah Jawa, pohon jawa

1. SAWO KECIK

sawo-kecik

Sawo Kecik (Manilkara kauki) sering disebut juga Sawo Jawa merupakan tanaman (pohon) penghasil buah dari keluarga sawo-sawoan (Sapotaceae) yang kini mulai langka dan jarang ditemukan di Indonesia. Sawo Kecik yang menurut filosofi jawa sering diidentikkan dengan ‘sarwo becik’ (serba baik). Di Yogyakarta kadang dijadikan tanaman pertanda bahwa orang yang menanamnya adalah abdi dalem kraton.

Tanaman penghasil buah yang batangnya mempunyai kayu yang keras dan kuat sehingga sangat baik untuk bahan bangunan, perabot rumah tangga, alat-alat pertukangan, bahkan dimanfaatkan sebagai benda-benda seni seperti patung, ukir-ukiran bahkan sebagai peralatan musik seperti badan biola dan rebana.

Sawo Kecik disebut juga sebagai Sawo Jawa. Sedangkan dalam bahasa Inggris, tanaman yang mulai langka ini disebut sebagai Caqui dan Manilkara. Di beberapa negara lain disebut Khirni (India), dan Lámút Sida atau Lámút Thai (Thailand). Sedangkan dalam bahasa ilmiah (latin) Sawo Kecik disebut sebagai Manilkara kauki yang bersinonim dengan Mimusops kauki,dan Manilkara kaukii.

Ciri-ciri.

Pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki) berukuran sedang dengan tinggi mencapai 25 m. Diameter (garis tengah) batang pohon Sawo Kecik mampu mampu mencapai 100 cm.

Daun-daun Sawo Kecik mengelompok pada bagian ujung batang. Di permukaan bawah daun Sawo Kecik berwarna keputihan dan halus seperti beludru dengan tangkai daun tidak menebal, panjang kelopak daun 7 mm.. Kuncup bunga Sawo Kecik berbentuk bulat telur.

Buah Sawo Kecik berbentuk bulat telur atau bulat telur sungsang berukuran kecil dengan panjang berkisar 3.7 cm. Buah Sawo Kecik mempunyai kulit pembungkus yang sangat tipis namun mudah dikelupas. Buah Sawo Kecik, bila mask mempunyai rasa yang manis dan kadang-kadang terasa sedikit agak sepat.

Sawo kecik tumbuh subur di daerah pesisir (pantai) yang beriklim kering hingga daerah berketinggian sekitar 500 meter dpl. Pohon langka ini sering ditanam sebagai pohon peneduh, pohon buah (untuk dikonsumsi buahnya), dan sebagai pohon ornament yang biasa ditanam di dekat kuil atau istana.

2 KEPEL

kepel

Kepel adalah nama pohon dan buah yang mempunyai nama ilmiah Stelechocarpus burahol. Tumbuhan penghasil buah yang menjadi kegemaran para putri keraton Jawa sejak jaman dulu ini kini termasuk salah satu tanaman langka di Indonesia. Pohon Kepel yang dipercaya mempunyai nilai filosofiadhiluhung ini merupakan flora identitas provinsi Daerah Istimewa Jogyakarta.

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) di beberapa daerah di Indonesia dikenal juga sebagai buah dan pohon kecindul, cindul, simpol, burahol, dan turalak. Dalam bahasa Inggris tumbuhan langka ini dikela sebagai Kepel Aple.

Pohon Kepel menjadi kegemaran para putri keraton di Jawa selain lantaran memiliki nilai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik, buah kepel juga dipercaya mempunyai berbagai khasiat dibidang kecantikan. Buah Kepel telah menjadi deodoran (penghilang bau badan) bagi para putri keraton. Sayang justru karena itu masyarakat jelata tidak berani menanam pohon ini sehingga menjadi langka.

Ciri-ciri Kepel.

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) mempunyai tinggi hingga 25 m dengan diameter batang mencapai 40 cm. Pada kulit batangnya terdapat benjolan-benjolan. Benjolan-benjolan ini merupakan bekas tempat bunga dan buah karena bunga dan buah kepel memang muncul di batang pohon bukannya di pucuk ranting atau dahan.

Daun Kepel tunggal, lonjong meruncing dengan panjang antara 12 – 27 cm dan lebar 5 – 9 cm. Warna daun Kepel hijau gelap. Bunga berkelamin tunggal, harum. Bunga jantan terdapat pada batang bagian atas atau cabang yang tua bergerombol antara 8 sampai 16. Sedangkan bunga betina hanya terdapat pada batang bagian bawah.

Buah Kepel tumbuh memenuhi batang pohonnya. Bentuk buah Kepel bulat lonjong dengan bagian pangkal agak meruncing. Warna buah Kepel (Stelechocarpus burahol) coklat agak keabu-abuan, dan ketika sudah tua akan berubah menjadi coklat tua. Daging buah berwarna agak kekuningan sampai kecoklatan membungkus biji yang berukuran cukup besar. Rasa buah Kepel manis.

Pohon Kepel dapat tumbuh di habitat yang berupa hutan sekunder yang terdapat di dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.

Pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) menjadi salah satu pohon yang langka. Kelangkaan tanaman ini lebih disebabkan oleh adanya anggapan pohon ini sebagai pohon keraton yang hanya pantas di tanam di istana. Rakyat jelata, khususnya masyarakat Jawa akan merasa takut mendapatkan tuah (kuwalat) jika menanam pohon ini.

Selain itu, sebagian masyarakat juga merasa buah ini malas untuk membudidayakannya. Meskipun memiliki rasa yang manis tetapi sebagian besar isi buah dipenuhi biji sehingga mengurangi minat orang untuk membudidayakannya.

Filosofi dan Manfaat Kepel.

Buah Kepel (Stelechocarpus burahol) yang buahnya seukuran kepalan tangan orang dewasa mempunyai filosofi sebagai perlambang kesatuan dan keutuhan mental dan fisik karena seperti tangan yang terkepal.

Buah Kepel sejak zaman dahulu telah dipergunakan oleh para putri keraton sebagai penghilang bau badan dan pewangi badan. Selain itu juga dipercaya sebagai salah satu sarana kontrasepsi sebagai sterilitas wanita (KB).

Daging buah kepel dipercaya mempunyai khasiat memperlancar air kencing, mencegah inflamasi ginjal. Kayu pohon Kepel (Stelechocarpus burahol) dapat digunakan sebagai bahan industri atau bahan perabot rumah tangga  dan bahan bangunan yang tahan lebih dari 50 tahun. Daun kepel bisa juga dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat. Lalap daun kepel mampu menurunkan kadar kolesterol.

3.BERINGIN

beringin

Pohon beringin punya filosofi kokoh kuat dan mengayomi. Beringin tidak tumbuh ke atas namun tumbuhnya melebar, mengembang dan terkadang kembali ke bawah menjuntai . Itu juga berarti orang harus mengenal asal usulnya,.. darimana dia berasal. Pun pohon beringin selalu menjernihkan mata air yang ada di sekitarnya. Tanaman beringin memiliki kemampuan sebagai tanaman konservasi mata air dan penguat lereng alami. Hal tersebut dapat dilihat dari struktur perakarannya yang dalam dan akar lateral yang mencengkeram tanah dengan baik. Selain itu, jenis-jenis beringin memang diketahui sebagai habitat beberapa burung, reptilian, serangga dan mamalia yang mengkonsumsi buahnya. Jadi, dengan menanam beringin, secara tidak langsung juga akan mengkonservasi fauna yang menjadikan beringin sebagai tempat hidupnya.

Beringin merupakan tanaman yang memiliki kemampuan hidup dan beradaptasi dengan bagus pada berbagai kondisi lingkungan. Selain itu keberadaan tanaman beringin pada kawasan hutan bisa dijadikan sebagai indikator proses terjadinya suksesi hutan. Beringin juga merupakan tanaman yang memiliki umur sangat tua, tanaman tersebut dapat hidup dalam waktu hingga ratusan tahun.

Pohon beringin sangat identik dengan segala sesuatu yang berbau mistis. Banyak orang menganggap pohon besar ini suci dan tempat kekuatan magis berkumpul. Tak jarang pula orang yang berpikir kalau lokasi di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker”.

Namun, dibalik semua rahasia yang tersimpan, pohon ini ternyata memiliki manfaat besar dalam menyembuhkan sejumlah penyakit.

Beringin yang bernama latin Ficus benyamina L, memiliki ketinggian sekitar 20 - 25 m. Batangnya tegak, bulat, dengan permukaan kasar. Pada bagian batang ini keluar akar gantung (akar udara). Pohon yang disebut waringin pada masyarakat Jawa dan Sumatera ini, memiliki bentuk daun tunggal, bertangkai pendek, dengan letak bersilang berhadapan. Bunganya tunggal, keluar dari ketiak daun, sementara buahnya buni bewarna hijau saat masih muda dan merah setelah tua.

Kandungan :

Akar udara yang terletak pada bagian batang pohon beringin mengandung asam amino, fenol, gula, dan asam orange. Memiliki rasa yang sedikit pahit, namun sejuk.

Khasiat :

Akar dan daun adalah bagian dari tanaman yang berkhasiat untuk mengatasi penyakit. Akar udara dapat dimanfaatkan untuk mengatasi pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri pada rematik sendi, dan luka terpukul (memar). Sementara daunnya berkhasiat menyembuhkan influenza, radang saluran napas (bronkitis), batuk rejan (pertusis), malaria, radang usus akut (akut enteritis), disentri, dan kejang panas pada anak.

Untuk mengatasi kejang panas pada anak, Anda bisa menyiapkan sekitar 100 g daun beringin segar. Cuci bersih lalu rebus bersama 5 liter air selama 25 rnenit. Gunakan air rebusan ini selagi hangat untuk memandikan anak yang sakit.

Untuk mengobati bronchitis , caranya : Rebus 75 g daun beringin segar dan 18 g kulit jeruk mandarin dengan 3 gelas air, sampai tersisa sekitar 1 gelas saja. Setelah dingin saring dan minum 3 kali sehari pagi , siang dan malam. Lakukan selama 10 hari.

Sedang untuk mengatasi  radang usus atu disentri caranya : Cuci bersih 500 g daun beringin segar dan rebus dengan 3 gelas air sampai tersisa sekitar 1 gelas saja. Setelah dingin saring dan minum 2 kali sehari pagi dan sore masing - masing 1/2 gelas.

4. KANTILkantil

Dalam bahasa Jawa, kantil berarti menggantung seperti halnya bunga ini. Bunga Kantil mempunyai makna ritual ‘kemantilkantil’ yang berarti selalu ingat dimanapun berada dan selalu mempunyai hubungan yang erat sekalipun sudah berbeda alam.

Kantil (Cempaka Putih) merupakan tanaman yang mempunyai bunga berwarna putih dan berbau harum dengan tinggi pohon mencapai 30 meter. Bunga kantil yang mempunyai nama latin Michelia alba dan masih berkerabat dekat dengan bunga jeumpa (cempaka kuning) ini merupakan tanaman khas (fauna identitas) provinsi Jawa Tengah.

Mitos yang berkembang di masyarakat, aroma bunga kantil yang khas sangat disukai oleh kuntilanak, sejenis makhlus halus berjenis kelamin perempuan. Kuntilanak, menurut mitos ini, sering menjadikan pohon kantil (cempaka putih) sebagai rumah tempat tinggalnya. Terlepas dari mitos tersebut, kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah baik dalam prosesi perkawinan maupun kematian.

Ciri-ciri.

Pohon kantil mempunyai tinggi yang mampu mencapai 30 meter dan mempunyai batang yang berkayu. Pada ranting-ranting pohon cempaka putih biasanya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan.

Daun kantil (cempaka putih) tunggal berbentuk bulat telur dan berwarna hijau. Tangkai daun lumayan panjang, mencapai hampir separo panjang daunnya. Kantil (Michelia alba) mempunyai bunga berwarna putih yang mempunyai bau harum yang khas. Tanaman yang dimitoskan sebagai rumah kuntilanak ini jarang ditemukan mempunyai buah karena itu perbanyakan dilakukan secara vegetatif.

Habitat tumbuhan kantil meliputi daerah beriklim tropis pada dataran rendah hingga ketinggian mencapai 1.600 meter dpl.

Manfaat dan Kegunaan.

Bunga Kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Bunga Kantil banyak di gunakan pada upacara perkawinan terutama sebagai hiasan sanggul dan keris. Selain itu bunga kantil juga digunakan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar).

Secara medis, bunga, batang, daun kantil (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina dan liriodenina yang mempunyai khasiat sebagai ekspektoran dan diuretik. Karena kandungan yang dipunyainya, kantil dipercaya dapat menjadi obat alternatif bagi berbagai penyakit seperti bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, prostata, infeksi saluran kemih, dan sulit kencing.

Sayangnya khasiat yang dipunyai oleh bunga cempaka putih ini belum tereksplorasi secara maksimal. Sehingga meski saat ini mulai ada yang berusaha membudidayakan tanaman ini tetapi pemanfaatannya lebih banyak untuk acara-acara spiritual dan tradisi.

Menyimak mitos dan kandungan medis yang menyertai fauna identitas provinsi Jawa Tengah ini, kini tergantung kepada masing-masing kita. Apakah lebih mempercayai tanaman ini sebagai rumah kuntilanak atau justru menyadari khasiat medis sebagai obat alternatif yang amat bermanfaat.

5.BAMBUbambu

Pohon bambu tak hanya menarik ketika ditata untuk menghias taman. Pohon berbatang ramping itu juga mengandung filosofi hidup yang berguna untuk manusia. Kita dapat menjumpai pohon bambu dengan murah di sekitar lingkungan.

Penampakannya sangat khas, rimbun berumpun dengan batang yang panjang serta daun yang bentuknya mirip rumput. Saat angin berembus, suara dari gesekan daun bambu memancarkan ciri tersendiri. Pohon yang dapat menyejukkan taman rumah ini menyimpan filosofi yang bisa jadi belum diketahui banyak orang. Bambu, yang perubahan “wujudnya” terbilang lambat, sebetulnya memiliki kekuatan pada akar. Satu hingga tiga tahun, pertumbuhan pohon ini dirasa lambat.

Namun, sebenarnya selama kurun waktu tersebut, akar bambu sedang tumbuh dengan pesat sehingga memiliki kekuatan yang luar biasa. Pertumbuhan bambu baru terlihat secara signifikan setelah empat tahun, dengan akar-akarnya yang juga tumbuh subur. Pada tahun kelima, setelah pertumbuhan akarnya selesai, barulah batang bambu akan muncul.

Tumbuh menjulang ke langit. Proses kehidupan pohon bambu mengandung arti filosofis buat manusia, yakni betapa fondasi yang kuat sangat diperlukan. Menurut klasifikasinya, bambu tergolong tanaman rumput. Namun, bambu adalah rumput spektakuler. Tingginya bisa terentang dari 30 cm hingga 30 meter. Bambu sebuah tanaman rumput yang unik. Nah, inilah pelajarannya. Meskipun berlatar tanaman rumput, bambu menjadi beda lantaran karakternya.

Kegunaan dan cara bambu mengekspresikan diri, menjadikannya tanaman rumput yang berbeda. Dalam kehidupan pun latar belakang, kita sebenarnya bukanlah penentu, melainkan bagaimana kita berupaya mengekspresikan potensi diri, tidak peduli latar belakang kita.

Itulah yang akhirnya membuat kita menjadi pribadi luar biasa. Pohon bambu juga mengajari kita soal fleksibilitas. Kita jarang menyaksikan bambu roboh. Di tengah tumbangnya pohon-pohon lain akibat serangan angin puting beliung, bambu tetap tegar berdiri.

Selain karena akar yang kuat, batangnya juga mampu bergoyang bersama angin. Alhasil, dalam cuaca buruk dan angin kencang, pohon bambu bisa bergoyang dan mengeluarkan desis suara mengikuti irama angin. Sementara pohon-pohon lain yang memiliki batang lebih besar, justru tidak kuat menghadapi ganasnya angin. Inilah yang disebut fleksibilitas.

Bambu tergolong keluarga gramineae, disebut juga dengan giant grass berumpun dan terdiri atas sejumlah batang yang tumbuh secara bertahap. Mulai rebung, batang muda, hingga umur dewasa yang mencapai 4?5 tahun. Bentuk batang bambu berbuku-buku atau beruas. Dia juga berdinding keras, dan di tiap ruasnya ditumbuhi mata tunas atau cabang.

Akar bambu berbentuk rimpang berbuku dan beruas. Setiap buku akan ditumbuhi serabut dan tunas yang dapat tumbuh sebagai batang.

Selain untuk kebutuhan perumahan dan perkakas rumah tangga atau tanaman hias, bambu merupakan salah satu jenis pohon yang sangat baik untuk kelestarian lingkungan. Sebagai fungsi pelestari lingkungan yang paling baik, bisa kita buktikan bahwa setiap ada rumpun bambu di sana, sudah pasti ada sumber air.

Begitu banyak keunikan pohon bambu yang kita temui. Menurut jenisnya, bambu ada yang berjenis bambu tali (bambu apus) , pohon bambu rebung( bambu petung ), bambu gombong, bambu wulung, bambu jepang, dan bambu china.

sumber:

http://alamendah.wordpress.com/

http://mypotik.blogspot.com

http://cozyeslife.blogspot.com

http://cahayaedukasi.com/archives/616

FILOSOFI RUMAH TRADISIONAL JAWA

Juli 28th, 2011, posted in falsafah Jawa, rumah jawa
joglo
Konstruksi bangunan yang khas pada rumah tradisional jawa dengan fungsi setiap bagian yang berbeda satu sama lain mengandung unsur filosofis yang yang sarat dengan nilai-nilai religi, kepercayaan, norma dan nilai budaya adat etnis Jawa. Rumah tradisi Jawa memiliki makna historis yang perlu dipelihara dan dilestarikan.
Akibat perubahan masyarakat dewasa ini, tradisi-tradisi lama cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi akibat perubahan pola pikir yang didukung oleh perubahan sosial dan lingkungan masyarakat. Begitu pula dengan rumah tradisi yang semakin jarang ditemukan. Masyarakat lebih nyaman membangun rumah dengan konsep modern atau tinggal di perumahan dan apartemen.
Perubahan tersebut tentu saja disesuaikan dengan kebutuhan saat ini. Maka tidak mengherankan apabila generasi muda etnis Jawa sendiri tidak mengenal secara mendalam tentang rumah adat Jawa. Selain sulit untuk menemukan rumah tersebut di lingkungan tempat tinggalnya, sedikit sekali sumber informasi yang bisa mereka peroleh. Banyak bangunan bernilai historis berarsitektur Jawa maupun etnis lain yang tidak terpelihara atau bahkan dibongkar karena tidak dapat difungsikan lagi dan diganti dengan gedung/bangunan modern.
Ketika membangun rumah Orang jawa selalu diiringi doa dengan harapan agar tempat tinggalnya dapat memberi kebahagiaan dan kesejahteraan  serta ketenangan hati bagi penghuninya.untuk itulah designnya selalu menggabungkan unsur fisik dan non fisik.
Terjadi penerapan prinsip hirarki dalam pola penataan ruangnya. Setiap ruangan memiliki perbedaan nilai, ruang bagian depan bersifat umum (publik) dan bagian belakang bersifat khusus (pribadi/privat). Uniknya, setiap ruangan dari bagian teras, pendopo sampai bagian belakang (pawon dan pekiwan) tidak hanya memiliki fungsi tetapi juga sarat dengan unsur filosofi hidup etnis Jawa. Unsur religi/kepercayaan terhadap dewa diwujudkan dengan ruang pemujaan terhadap Dewi Sri (Dewi kesuburan dan kebahagiaan rumah tangga) sesuai dengan mata pencaharian masyarakat Jawa (petani-agraris.
Bentuk rumah tradisional jawa selalu berbentuk Joglo  yang bermacam macam jenisnya, namun selalu menerapkan prinsip yang sama, yaitu membagi ruangan menjadi lima bagian :
1.Teras atau Pendopo
Terletak di depan, fungsi utamanya untuk menerima tamu. Bagian ini selalu terbuka tanpa pembatas ruangan. Keterbukaan ini bukannya tanpa maksud. Ini melambangkan hangatnya pribadi Jawa yang senantiasa terbuka dan mengutamakan kerukunan serta kebersamaan. Juga melambangkan keakraban antara yang punya rumah dan tamu yang berkunjung.
Ruangan ini juga digunakan untuk  membicarakan segala macam  masalah yang bersifat keduniawian. Misalanya membicarakan masalah pekerjaan, bisnis, dll.
Bentuknya yang terbuka juga merupakan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan yang beriklim tropis. Salah satu bentuk penyesuaian terhadap kondisi tersebut dengan membuat teras depan yang luas, terlindung dari panas matahari oleh atap gantung yang lebar, mengembang ke segala sudut yang terdapat pada atap joglo.

2. Pringgitan. (dari kata ringgit artinya wayang ).
Sebenarnya ruangan ini masih termasuk wilayah publik.  Pada jaman dahulu ruangan ini sering digunakan untuk mengadakan pertunjukan wayang kulit atau upacara tradisional lainnya.
3. Dalem Agung
Bentuknya persegi dan tertutup dinding pada keempat sisinya. Bagian ini merupakan bagian yang terpenting dalam rumah tradisional Jawa. Disamping ruangan ini ada tiga kamar, yaitu ruang kiri untuk tidur anggota keluarga laki laki, dan ruang kanan untuk tidur anggota keluarga perempuan.
Kemudian ada lagi ruang tengah yang dinamakan krobongan , yang menjadi ruang istimewa dalam bangunan ini. Ada yang berpendapat bila krobongan adalah ruang terpisah meski masih dalam satu lingkup dalem agung.
4. krobongan
seperti telah diterangkan di atas bahwa krobongan adalah ruang  istimewa dalam rumah tradisional jawa. Fungsi utama ruangan ini adalah untuk menyimpan berbagi bentuk pusaka yang punya kekuatan magis. Pemilik rumah bila sedang ingin melakukan doa kepada Tuhan atau semedi juga melakukannya di dalam ruangan sakral ini.
Di dalam krobongan juga terdapat ranjang , kasur, bantal serta guling. Kegunaan dari benda benda ini bukan sebagai peralatan untuk tidur, namun sebagai simbol penyatuan hubungan cinta antara laki laki dan perempuan. Selain benda tersebut juga dapat ditemukan patung pengantin Jawa yang melambangkan kebahagiaan dan kesuburan suami istri.
Krobongan merupakan ruang khusus yang dibuat sebagai penghormatan terhadap Dewi Sri yang dianggap sangat berperan dalam semua sendi kehidupan masyarakat Jawa.

5. Gandhok atau Pawon/pekiwan
Letaknya di bagian paling belakang dan memanjang dari kiri ke kanan. Fungsinya untuk memasak dan kamar mandi. Meski terlihat sederhana, namun bagian ini juga merupakan bagian yang bersifat pribadi dan memiliki nilai kesakralan juga.
Setelah mengenal bagian-bagian ruangan dalam bangunan rumah tradisional Jawa yang penuh makna dan simbol itu, kita jadi mengerti bahwa kehidupan di dunia ini akan mencapai kesempurnaan bila terjadi keseimbangan antara kehidupan yang bersifat keduniawian dan dan kehidupan yang bersifat kerohanian.
Rumah tradisi Jawa banyak mempengaruhi rumah tradisi lainnya, diantaranya rumah abu (bangunan yang didirikan oleh keluarga semarga dan digunakan sebagai rumah sembahyang dan rumah tinggal untuk menghormati leluhur etnis Cina). Oleh karena itu, struktur rumah abu memiliki banyak persamaan dengan rumah tradisi Jawa dalam berbagai segi.

Bangunan atau rumah tradisi tidak hanya dibangun sebagai tempat tinggal tetapi juga diharapkan membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bagi penghuninya melalui pernggabungan unsur makrokosmos dan mikrokosmos di dalam rumah tersebut. Dengan demikian diharapkan keseimbangan hidup tercapai dan membawa dampak positif bagi penghuninya.

Mendalami unsur filosofi dalam rumah tradisi Jawa membuka kemungkinan usaha generasi muda sebagai pewaris kebudayaan di masa yang akan datang untuk memelihara dan melestarikan warisan generasi pendahulunya.

sumber:

FILOSOFI PEREMPUAN JAWA

Juni 21st, 2011, posted in falsafah Jawa

Sebelum mengupas filosofi tentang perempuan atau wanita Jawa , ada baiknya kita kenal dulu apa arti kata perempuan atau wanita. Setidaknya ada empat term di Jawa yang digunakan untuk menyebut perempuan.

- Wadon

Berasal dari bahasa Kawi “Wadu” yang artinya kawula atau abdi. Secara istilah diartikan bahwa perempuan dititahkan di dunia ini sebagai abdi laki-laki.

- Wanita

Kata wanita tebentuk dari dua kata bahasa Jawa (kerata basa) “Wani” yang berarti berani dan “Tata” yang berarti teratur. Kerata basa ini mengandung dua pengertian yang berbeda. Pertama, “Wani ditata” yang artinya berani (mau) diatur dan yang kedua, “Wani nata” yang artinya berani mengatur. Pengertian kedua ini mengindikasikan bahwa perempuan juga perlu pendidikan yang tinggi untuk bisa memerankan dengan baik peran ini.

- Estri

Berasal dari bahasa Kawi “Estren” yang berarti panjurung (pendorong). Seperti pepatah yang terkenal, “Selalu ada wanita yang hebat di samping laki-laki yang hebat”

- Putri

Dalam peradaban tradisional Jawa, kata ini sering dibeberkan sebagai akronim dari kata-kata “Putus tri perkawis”, yang menunjuk kepada purna karya perempuan dalam kedudukannya sebagai putri. Perempuan dituntut untuk merealisasikan tiga kewajiban tiga kewajiban perempuan (tri perkawis). Baik kedudukannya sebagaiwadonwanita, maupun estri.

Tetapi, sebagai perempuan ada yang tidak saya sukai dari kejawaan itu. Salah satunya adalah ketidaktegasan, bentuk ewoh-pekewoh wong Jowo yang dikenal penuh basa-basi. Apalagi dengan bagaimana perempuan dicitrakan dalam karya-karya sastra Jawa kuno. Saya memang bukan penikmat sastra jawa. Atau karena itu saya tidak bisa menangkap makna yang seharusnya ingin disampaikan. Misalnya dalam Kitab “Clokantara” disebutkan:

“Tiga Ikang abener lakunya ring loka/ iwirnya/ ikang iwah/ ikang udwad/ ikang janmasri// yen katelu/ wilut gatinya// yadin pweka nang istri hana satya budhinya/ dadi ikang tunjung tumuwuh ring cila//”

Artinya: “Tiga yang tidak benar jalannya di bumi yaitu sungai, tanaman melata, dan wanita. Ketiganya berjalan berbelit-belit. Jika ada wanita yang lurus budinya akan ada bunga tunjung tumbuh di batu.”

Jelas bagaimana wanita dicitrakan dalam kalimat tersebut. Bahwa wanita disamakan dengan sungai dan tanaman melata yang berbelit-belit. Dan adalah ketidakmungkinan wanita untuk bisa mempunyai pendirian. Karena tidak akan ada bunga tunjung yang tumbuh di batu.

Juga tentang bagaimana perempuan dibandingkan dengan laki-laki dalam “Serat Paniti Sastra”:

“Wuwusekang wus ing ngelmi/ kaprawolu wanudyo lan priyo/ Ing kabisan myang kuwate/ tuwin wiwekanipun/..”

Artinya: “Katanya yang telah selesai menuntut ilmu, wanita hanya seperdelapan dibanding pria dalam hal kepandaian dan kekuatan serta kebijaksanaanya.”

Jadi dalam kalimat di atas ada ketidaksetaraan antara pria dan wanita. Walau mungkin kenyataannya bisa jadi demikian, tapi menurutku wanita kudu diberi kesempatan sama dengan laki laki. Memang demikianlah adanya pandangan orang Jawa, aku hanya memberi gambaran, kalau  sependapat boleh terima, tapi kalau mungkin tak sependapat ya jangan dipakai, cukup sebagai pengetahuan saja karena aku juga begitu.

Dalam kehidupan perempuan Jawa sering kita dengar istilah masak, macak, manak yang artinya pandai memasak, pandai berdandan atau bersolek, dan bisa memberi keturunan,… hehehehe,… sepertinya gak jauh jauh dari sumur, dapur, dan kasur,… masa iya sih sedangkal itu.  Tapi setelah dipikir lagi ternyata amat dalam,

1. masak

wanita atau perempuan Jawa  tidak sekadar membuat/mengolah makanan, melainkan memberi ‘nutrisi’ dalam rumah tangga sehingga tercipta keluarga yang ’sehat’. Dalam aktivitas memasak pula seorang wanita harus memiliki kemampuan meracik, menyatukan, dan mengkombinasikan berbagai bahan menjadi satu untuk menjadi sebuah ‘makanan’. Ini adalah  wujud kasih sayang istri terhadap seluruh anggota keluarga.

2.macak

macak adalah bersolek atau berhias. Jangan dimaknai hanya sebagai aktivitas bersolek mempercantik diri. di dalamnya terkandung makna menghiasi atau memperindah ‘bangunan’ rumah tangga. Juga mempercantik batinnya supaya memiliki sifat yang lemah lembut, ikhlas, penyayang,  sabar dan mau bekerja keras.

3. manak

manak artinya melahirkan anak.  Tidak semata proses bekerja sama dengan suami dalam ‘membuat anak’, mengandung dan melahirkan seorang buah hati. Akan tetapi mengurus, mendidik, dan membentuk karakteristik seorang anak hingga menjadi manusia seutuhnya.

Menurut  Ronggowarsito sedikitnya ada 3 watak perempuan yang jadi pertimbangan laki laki ketika akan memilih, yaitu :

1.Watak Wedi, menyerah, pasrah, jangan suka mencela, membantah atau menolak pembicaraan.

Lakukan perintah laki-laki dengan sepenuh hati.

2.Watak Gemi, tidak boros akan nafkah yang diberikan.

Banyak sedikit harus diterima dengan syukur. Menyimpan rahasia suami, tidak banyak berbicara yang tidak bermanfaat. Lebih lengkap lagi ada sebuah ungkapan, gemi nastiti ngati-ati. Kurang lebih artinya sama dengan penjelasan gemi diatas. Siapa laki-laki yang tidak mau mempunyai pasangan yang gemi?

3.Watak Gemati, penuh kasih.

Menjaga apa yang disenangi suami lengkap dengan alat-alat kesenangannya seperti menyediakan makanan, minuman, serta segala tindakan. Mungkin karena hal ini, banyak perempuan jawa relatif bisa memasak. Betul semua bisa beli,tetapi hasil masakan sendiri  adalah sebuah bentuk kasih sayang seorang perempuan di rumah untuk suami (keluarga).

Aku rasa 3 sifat di atas ‘tidak hanya’ cocok diterapkan pada wanita Jawa. Kurasa semua laki laki dari suku manapun akan menyenangi wanita dengan karakter tersebut. Karena sekarang yang dilihat bukan asal suku nya, tetapi karakternya. Dan tidak semua perempuan Jawa punya karakter tersebut.   Dari hasil pengamatanku  pada  perempuan sekelilingku ada 3 watak wanita jawa yang kutangkap yaitu :

1. tangguh, pekerja keras dan pantang menyerah

2. hemat dan mau hidup susah

3. penurut, setia, lembut

Bagaimanapun aku perempuan Jawa, aku harus mengenal filosofinya, meski gak seluruhnya kutelan mentah dan kupakai begitu saja, tapi setidaknya bisa jadi pencerah . Atau paling tidak mengerem ketika aku jauh melenceng dari watak itu.

sumber:

http://sosbud.kompasiana.com/2011/04/06/filosofi-3m-bagi-perempuan-jawa/

http://mezzalena.wordpress.com/2009/01/08/menunggu-hujan-dan-gamelan-jawa/

http://www.wonosari.com/t2537-perempuan-jawa

FILOSOFI PRIA JAWA

Juni 19th, 2011, posted in budaya jawa, falsafah Jawa

Seorang pria Jawa memiliki kehidupan yang sempurna atau lengkap bila memiliki 5 hal yaitu : curigo, wismo, turonggo, kukilo, garwo . Wah, apakah itu?

1. curigo (senjata)

curigo atau keris bisa diartikan sebagai pekerjaan atau penghasilan. Seorang pria Jawa dikatakan hebat kalau punya pekerjaan atau penghasilan. Pada jaman dulu ini diartikan juga sebagai senjata atau mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya, bisa berwujud juga kemampuan kanuragan yang dimiliki.

2. wismo

wisma berarti rumah atau tempat tinggal. Pada jaman dahulu pria Jawa harus memiliki istananya. Kalau diartikan di jaman sekarang punya tempat tinggal sendiri yang dibeli dengan kemampuan sendiri baru dikatakan sebagai pria sejati.

3. turonggo

turonggo artinya kuda, bisa diartikan kendaraan. Makin lengkap seorang pria Jawa kalau memiliki kendaraan yang bisa membawanya kemanapun.

4. kukilo

kukilo bisa diartikam sebagai burung, atau kalau diterapkan di jaman sekarang adalah hewan piaraan, burung berkicau atau hobi dan kesenangan. Hobi menunjukkan karakter seseorang.

5. garwa

garwa merupakan kependekan dari sigaraning  jiwo yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia adalah separuh jiwa, dengan kata lain isteri. Sungguh sangat bertolak belakang dengan apa yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, dimana semua orang ngoyo (memaksakan diri) untuk berkeluarga sebelum memiliki kehidupan yang layak.”

Itulah yang harus dimiliki oleh seorang pria Jawa kalau mau dikatakan lengkap dan mengalami kehidupan yang sempurna. Sebenarnya tidak terlalu buruk bila diterapkan di jaman sekarang. Rumah gak perlu mewah yang penting nyaman untuk ditempati.  Pekerjaan memang harus dimiliki seorang pria dewasa jika ingin memasuki kehidupan berikutnya yaitu berumah tangga. Kendaraan juga , asal bisa membawa ke tempat yang ingin kita tuju dan tak perlu mewah. Serta memiliki hobby menunjukkan karakter seseorang. Nah kalau empat itu sudah dimiliki perlu dipikirkan untuk mencari istri yang akan merawat rumah beserta isinya. Jangan malah dibalik urutannya, seperti yang biasa terjadi sekarang. Sepertinya ini filosofi yang bagus, bukan hanya untuk pria Jawa, tetapi untuk semua pria ketika memutuskan untuk mencapai jenjang berikutnya yaitu kehidupan berumah tangga. Satu lagi khasanah kehidupan yang bisa kita pelajari dari filosofi Jawa.

sumber: http://friar29.blogspot.com/2010/10/filosofi-pria-jawa.html

FILOSOFI DI BALIK TEMBANG MACAPAT

Juni 19th, 2011, posted in tembang jawa

Sebagai mana banyak kebiasaan dan adat jawa yang mengandung filosofi,.. maka macapat juga banyak mengandung filosofi kehidupan,… yang kalau kita renungi mengandung nilai yang amat dalam serta sarat akan  khasanah-khasanah kearifan. Di tengah gempuran budaya barat dan timur yang menggempur kita tak henti-henti, barat yang menawarkan liberalis dan hidup tanpa aturan serta unggah ungguh, dan budaya timur yang tak menerima perbedaan, yang selalu mengajak kekerasan untuk menentang perbedaan, ada baiknya kita kembali ke filosofi budaya sendiri yang amat luhur dan jelas sesuai dengan kehidupan kita yang beragam, yang mengajarkan kearifan dan kehalusan budi, tatakrama yang agung, serta keharmonisan di tengah perbedaan.

Salah satunya Macapat,.. yang kandungan filosofi amat dalam, bisa dijelaskan sbb:

1. Maskumambang

Adalah gambaran dimana manusia masih di alam ruh, yang kemudian ditanamkan dalam rahim/ gua garba ibu kita. Dimana pada waktu di alam ruh ini Allah SWT telah bertanya pada ruh-ruh kita: “Alastu Bi Robbikum”, “Bukankah AKU ini Tuhanmu”, dan pada waktu itu ruh-ruh kita telah menjawabnya: “Qoolu Balaa Sahidna”, “Benar (Yaa Allah Engkau adalah Tuhan kami) dan kami semua menjadi saksinya”.

2. Mijil

Merupakan ilustrasi dari proses kelahiran manusia, mijil/mbrojol/mencolot dan keluarlah jabang bayi bernama manusia. Ada yang mbrojol di India, ada yang di China, di Afrika, di Eropa, di Amerika dst. Maka beruntunglah kita lahir di bumi pertiwi yang konon katanya Gemah Ripah Loh Jinawi Tata Tentrem Karta Raharjo Lir Saka Sambikala. Dan bukan terlahir di Somalia, Etiopia atau negara-negara bergizi buruk lainnya.

3. Sinom

Adalah lukisan dari masa muda, masa yang indah, penuh dengan harapan dan angan-angan.

4. Kinanthi

Masa pembentukan jatidiri dan meniti jalan menuju cita-cita. Kinanti berasal dari kata kanthi atau tuntun yang bermakna bahwa kita membutuhkan tuntunan atau jalan yang benar agar cita-cita kita bisa terwujud. Misalnya belajar dan menuntut ilmu secara sungguh-sungguh.”Apa yang akan kita petik esok hari adalah apa yang kita tanam hari ini”.

5. Asmarandana

Menggambarkan masa-masa dirundung asmara, dimabuk cinta, ditenggelamkan dalam lautan kasih. Asmara artinya cinta, dan Cinta adalah ketulusan hati.
Cinta adalah anugerah terindah dari Gusti Allah dan bagian dari tanda-tanda keAgungan-Nya.

6. Gambuh

Awal kata gambuh adalah jumbuh / bersatu yang artinya komitmen untuk menyatukan cinta dalam satu biduk rumah tangga. Dan inti dari kehidupan berumah tangga itu adalah saling melengkapi dan bersinergi secara harmonis.
Lumrahnya fungsi pakaian adalah untuk menutupi aurat, untuk melindungi dari panas dan dingin.Dalam berumah tangga seharusnya saling menjaga, melindungi dan mengayomi satu sama lain, agar biduk rumah tangga menjadi harmonis dan sakinah dalam naungan Ridlo-Nya.

7. Dhandhanggula

Gambaran dari kehidupan yang telah mencapai tahap kemapanan sosial, kesejahteraan telah tercapai, cukup sandang, papan dan pangan (serta tentunya terbebas dari hutang piutang). Kurangi Keinginan Agar Terjauh dari hutang. Hidup bahagia itu kuncinya adalah rasa syukur, yakni selalu bersyukur atas rezeki yang di anugerahkan Allah SWT kepada kita.

8. Durma

Sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah maka kita harus sering berderma, durma berasal dari kata darma / sedekah berbagi kepada sesama. Dengan berderma kita tingkatkan empati sosial kita kepada saudara-saudara kita yang kekurangan, mengulurkan tangan berbagi kebahagiaan, dan meningkatkan kepekaan jiwa dan kepedulian kita terhadap kondisi-kondisi masyarakat disekitar kita.
“Barangsiapa mau meringankan beban penderitaan saudaranya sewaktu didunia, maka Allah akan meringankan bebannya sewaktu di Akirat kelak”.

9. Pangkur

Pangkur atau mungkur artinya menyingkirkan hawa nafsu angkara murka, nafsu negatif yang menggerogoti jiwa kita. Menyingkirkan nafsu-nafsu angkara murka, memerlukan riyadhah / upaya yang sungguh-sungguh, dan khususnya di bulan Ramadhan ini mari kita gembleng hati kita agar bisa meminimalisasi serta mereduksi nafsu-nafsu angkara yang telah mengotori dinding-dinding kalbu kita.

10. Megatruh

Megatruh atau megat roh berarti terpisahnya nyawa dari jasad kita, terlepasnya Ruh / Nyawa menuju keabadian (entah itu keabadian yang Indah di Surga, atau keabadian yang Celaka yaitu di Neraka).
“ Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut “, “ Setiap Jiwa Pasti Akan Mati “.
“ Kullu Man Alaiha Faan “, “ Setiap Manusia Pasti Binasa “.
Akankah kita akan menjumpai Kematian Yang Indah (Husnul Qootimah) ataukah sebaliknya ?

11. Pocung (Pocong / dibungkus kain mori putih)

Manakala yang tertinggal hanyalah jasad belaka, dibungkus dalam balutan kain kafan / mori putih, diusung dipanggul laksana raja-raja, itulah prosesi penguburan jasad kita menuju liang lahat, rumah terakhir kita didunia.
“ Innaka Mayyitun Wainnahum Mayyituuna “, “ Sesungguhnya kamu itu akan mati dan mereka juga akan mati”.

Demikian luhurnya filososfi yang terkandung dalam setiap tembang Macapat,.. dimulai dari kita berbentuk roh sampai kita berpisah dengan roh kita, itulah tingkat kehidupan dan pencapaian2 yang ingin digambarkan dalam setiap tembang macapat. Bahwa kehidupan ini tak ada yang instan, untuk sampai pada tujuan tertentu selalu ada tahapan atau tingkatan yang dilalui untuk jadi pribadi yang sempurna. Dan setiap tahapan pasti mengajarkan nilai kehidupan.

sumber: http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/04/filsafat-dibalik-tembang-macapat/